BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi ramah lingkungan - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Sabtu, 20 Juli 2019

BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi ramah lingkungan

pariwisata di indonesia, go digital wisata, tourism 4.0

BERITA TEKNOLOGI | Mutiara Fajrin menikmati pengalaman wisata yang menarik saat mendatangi Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, Oktober tahun lalu. Dia kesatu kalinya merasakan wisata living on boat alias menginap di kapal bareng sahabatnya dan enam turis asing beda yang berbagi sewa kapal. Kapal membawa mereka mengelilingi pulau-pulau di dekat Labuan Bajo sekitar tiga hari dua malam. Beberapa spot wisata unik yang disinggahi di antaranya Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pink Beach. 

Selama mengelilingi Labuan Bajo, Mutiara bebas bermain pasir di pantai, berkeliling pulau, snorkeling, dan berburu kuliner makanan laut. “Saat malam kami istirahat di dalam kapal yang tertambat di pelabuhan,” kata Mutiara untuk Katadata.co.id, sejumlah waktu lalu. Mutiara dan sahabatnya menata liburan ke Labuan Bajo dengan mengandalkan software perjalanan dan informasi di media sosial. “Sahabat saya menemukan informasi promo living on boat di Instagram, sementara saya menggali tiket pesawat,” kata Mutiara. Ilustrasi pemesanan tiket melalui software digital. 


(Katadata) Mutiara sukses mendapatkan tiket pesawat murah, promo dari Airasia yang baru saja membuka rute penerbangan dari lokasi tinggalnya di Jakarta mengarah ke Labuan Bajo. Informasi didapatkan Mutiara dari notifikasi promosi di sebuah software perjalanan. “Saya merasa beruntung sekali sukses mendapatkan tiket pesawat dengan harga murah Rp 900 ribu sekali jalan ketika itu,” kata Mutiara. Berkat keuletan Mutiara dan kawannya mereka pun berfoya-foya dengan harga hemat. 

Biaya pengeluaran liburan di Labuan Bajo, tergolong harga tiket pesawat kembali dan pergi sebesar Rp 5 juta tiap orangnya. Mutiara adalahsalah satu dari kalangan milenial yang memakai layanan perjalanan digital sebagai sumber informasi utama dalam menilai liburan mereka. Saat ini selama 62,9% populasi dunia mempunyai ponsel pintar dan rata-rata menggunakannya 3,5 – 5 jam sehari. Google berkolaborasi dengan PhocusWright pada 2018 tentang pemakaian ponsel cerdas guna perjalanan wisatawan. 
Dari hasil riset, semua pelancong memakai ponsel cerdas mulai dari penelitian perjalanan, pemesanan, sampai mengandalkan perlengkapan seluler di lokasi tujuan. 


Perkembangan Layanan Wisata Digital 

Layanan wisata digital di Indonesia mendapatkan lokasi seiring berkembangnya keperluan ekonomi rekreasi (leisure economy) di Indonesia. Leisure economy adalahpola konsumsi masyarakat yang bertujuan guna mendapatkan kesukaan dan pengalaman. 
Istilah ini kesatu kali diperkenalkan oleh Linda Nazareth lewat bukunya The Leisure Economy: How Changing Demographics, Economics, and Generational Attitudes Will Reshape Our Lives and Our Industries (2007). Linda menuliskan bahwa pola konsumsi masyarakat mulai bergeser dari goods-based consumption (barang) menjadi experience-based consumption (pengalaman). Pengamat pariwisata Yuswohady dalam suatu tulisannya mengaku tren konsumsi wisata di Indonesia menemukan amunisi pertumbuhannya di antaranya sebab dua urusan berikut.

Pertama, hadirnya penerbangan murah atau low cost carrier (LCC) yang menciptakan semakin tidak sedikit masyarakat dapat menjangkau tiket pesawat. Kehadiran LCC dibuntuti murahnya tarif hotel (budget hotel) dan membuat apa yang disebut: “low cost tourism”. Kedua, hadirnya software perjalanan yang memberikan fasilitas informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah. “Kemudahan ini merangsang minat spektakuler dari semua lapisan masyarakat guna berlibur,” tulis Yuswohady. Peranan software perjalanan tampak dari survey Jakpat yang bertema “Travelling Trends 2018”. Survei itu melibatkan 2.905 narasumber yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, serta Papua dan Maluku. 


Hasilnya, sejumlah 81,47% responden mengaku bahwa mereka menggunakan software perjalanan. Aplikasi perjalanan yang paling tidak sedikit digunakan yaitu Traveloka (87,05%) dan Tiket.com (29,75%). Selanjutnya Pegipegi (19,59%), Airy (7,95%), Agoda (7,53%) dan Boking.com (3,84%). Aplikasi perjalanan Traveloka yang didirikan pada 2012 oleh Ferry Unardi dkk, menulis bahwa pengeluaran liburan pada 2018 pertumbuhannya selama 5,1 % dengan nilai menjangkau Rp 368,9 triliun. 

Direktur Hubungan Masyarakat Traveloka Sufintri Rahayu mengutip Google mengaku jumlah penelusuran bersangkutan travel mengalami eskalasi yang signifikan - sebesar 30% per tahun. “Melihat tren travel yang positif, kami bakal terus menambahkan fitur dan produk yang semakin dapat menolong pemakai untuk mempermudah dalam mengerjakan perjalanan,” kata Sufintri untuk Katadata.co.id. 


Tren Tourism 4.0 

Tak melulu pihak swasta, pemerintah di sebanyak negara sekarang memanfaatkan teknologi digital guna mengembangkan pariwisata atau dikenal dengan istilah tourism 4.0. Kementerian Pariwisata mempunyai program Go-Digital demi menjangkau target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019. Tren tourism 4.0 di diprakarsai Spanyol yang merealisasikan digitalisasi pariwisata di sejumlah destinasi utamanya. 

Sekitar 1,2 miliar orang di semua dunia bepergian ke Spanyol sepanjang 2016. Jumlah ini diduga meningkat sampai 1,8 miliar orang tahun ini. Spanyol menjadi negara yang mempunyai pendapatan pariwisata terbesar ketiga di dunia. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Spanyol dari sektor pariwisata selama 11% atau 78 juta euro tahun lalu. Suasana pantai di Mandalika (ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI) Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku perilaku wisatawan yang datang ke Indonesia guna look, book, and pay sudah dilaksanakan secara digital. 

Baca juga : kuliah sambil kerja

Gaya hidup ini mengolah strategi dari konvensional menjadi go digital. Dia mengaku 50% wisatawan berasal dari kalangan generasi milenial, oleh sebab tersebut menjadi target utama pariwisata Indonesia. “Kuncinya the more digital, the more global, sampai-sampai dituntut lebih interaktif, mobile, dan personal,” kata Arief dilansir dari website Kementerian Komunikasi dan Informatika. Arief pun menjelaskan bahwa ketika ini Kementerian Pariwisata memakai 70% perkiraan untuk promosi di media digital. “Akan mengherankan kalau masyarakat gunakan digital dan kami masih gunakan manual, untuk mencapai wisatawan milenial mesti dengan milenial,” kata dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar