BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi ponsel - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Senin, 22 Juli 2019

BERITA TEKNOLOGI | berita teknologi ponsel

face app
face app

BERITA TEKNOLOGI | Semua orang tengah merundingkan FaceApp, software yang bisa mengubah potret wajah seseorang ke versi yang lebih muda atau lebih tua. Ribuan orang mengunggah wajah hasil percobaan mereka di software tersebut ke media sosial.

Namun semenjak pengubah wajah tersebut viral sejumlah pekan terakhir, hadir perhatian mengenai syarat dan peraturan pemakaian software tersebut. Sekelompok orang mengasumsikan perusahaan pembuat software ini menunggangi produk mereka untuk memungut data pemakai.

Dalam penjelasan resmi, FaceApp mengaku menghapus beberapa besar potret pemakai dari pusat data mereka, minimal 48 jam sesudah unggahan terakhir. Perusahaan tersebut juga mengklaim melulu mengunggah potret yang dipilih dan diolah pemakai mereka, bukan foto-foto lainnya.

Baca juga : Berita teknologi xiaomi

FaceApp bukanlah barang baru. Dua tahun lalu software ini menjadi pemberitaan sebab fitur etnik mereka. Fitur tersebut bermaksud mengolah wajah seseorang dari satu ciri etnik tertentu ke entik lainnya. Pengubah berbasis etnik tersebut memicu pro-kontra dan belakangan ditarik dari FaceApp.

Proses pengubah wajah tersebut dapat menciptakan wajah menjadi lebih tua atau menjadikan tampang menggerutu menjadi wajah yang tersenyum. Aplikasi tersebut juga dapat mengolah gaya rias wajah.

Aplikasi itu beroperasi atas pertolongan sistem kepintaran buatan. Sebuah algoritma memungut sampel wajah Anda, kemudian menyesuaikannya pada misal wajah lainnya.

Baca juga : Teknologi informasi

Memasukkan wajah tersenyum yang menunjukkan gigi juga menjadi memungkinkan, tergolong menyesuaikan garis di dekat mulut, dagu, dan pipi guna tampilan lebih natural.

Keterkejutan dan ketidaksepahaman belakangan hadir saat pengembang software ini, Joshua Nozzi, mencuit bahwa FaceApp mengunggah mengambil potret dari ponsel pintar pelanggan mereka tanpa izin. Peneliti ketenteraman siber asal Perancis, Elliot Alderson pun menyelidiki kebenaran pengakuan tersebut.

Alderson menemukan, tidak terdapat unggahan dalam jumlah besar yang terjadi. Menurutnya, FaceApp melulu mengambil potret yang dimasukkan pemakai. Dalam konfirmasi untuk BBC, FaceApp pun mengatakan urusan serupa.

Sejumlah pihak mengasumsikan FaceApp memakai foto-foto pemakai mereka guna menguji algoritma pengenal wajah.

Baca juga : teknologi informasi 4.0

Proses itu diperkirakan dapat dilaksanakan setelah sekian banyak  foto itu dihapus. Alasannya, pengukuran fitur wajah seseorang memang dapat dipungut dan dipakai untuk destinasi itu.

“Tidak, kami tidak menggunakan potret semacam tersebut untuk menguji sistem pengenal wajah,” ujar direktur operasional perusahaan empunya FaceApp, Yaroslav Goncharov. “Kami menggunakannya melulu untuk proses mengolah wajah,” tuturnya untuk BBC News.

Tidak sepenuhnya begitu. Sejumlah pihak mempertanyakan dalil FaceApp mesti mengunggah potret ke pusat penyimpanan data mereka, di saat software itu secara teori bisa memproses evolusi wajah di ponsel pontar pemakai.

Baca juga : berita teknologi paling apdate

Dalam permasalahan FaceApp, pusat data yang menyimpan potret pemakai bertempat di Amerika Serikat. Adapun, FaceApp ialah perusahaan yang tercatat di Rusia dan bermarkas di St Petersburg.

Pengamat ketenteraman siber, Jane Manchun Wong, menyebut cara kerja tersebut memberi keuntungan untuk FaceApp. Menurutnya, pengembang software serupa akan sulit mempelajari bagaimana algoritma FaceApp bekerja.

Steven Murdoch, peneliti di University College London, sepakat dengan evaluasi tersebut.

“Akan lebih baik untuk privasi publik ketika perubahan potret terjadi di ponsel mereka, meski prosesnya bakal lebih lambat, memakai lebih tidak sedikit baterai, dan memungkinkan teknologi FaceApp dicuri,” kata Murdoch untuk BBC News.
Pengacara asal Amerika Serikat, Elizabeth Potts Weinstein berkata, kriteria dan ketetentuan software itu memuat pengakuan bahwa potret pemakai dapat dipakai untuk kebutuhan komersil, salah satunya iklan FaceApp.

Lance Ulanoff, pimpinan redaksi di website berita teknologi Lifewire, menanggapinya dengan menunjuk kriteria dan peraturan pemakaian Twitter yang memuat klausa serupa.

Bagi sejumlah orang, ini ialah inti persoalan. Pegiat hak privasi, Pat Walshe, mempersoalkan kepandaian FaceApp yang menyinggung data pemakai bisa dilacak guna kepentingan iklan. FaceApp pun menyertakan Google Admob yang menghubungkan iklan Google untuk pemakai.

Baca juga : kursus asik 

Walshe berbicara kepada BBC, kepandaian ini dilaksanakan dalam nuansa yang tidak jelas. “Ketentuan ini tidak berhasil  memberi opsi dan kontrol penuh untuk pemakai,” ujarnya.

Sementara itu, Goncharov menyebut kepandaian privasi FaceApp paling umum. Menurutnya, pengelola software itu tidak menyebarkan data pemakai untuk destinasi iklan. Goncharov mengatakan, FaceApp meraup deviden dari fitur premium berbayar.

“Ketentuan FaceApp memungkinkan perusahaan secara efektif melakukan apapun terhadap potret pemakai. Ini lumayan mencuatkan pernyataan, meski awam dilakukan,” kata Steven Murdoch dari University College London.

“Banyak perusahaan software tahu nyaris semua orang tidak membaca kepandaian privasi, sampai-sampai mereka meminta pelbagai hak, siapa tahu tersebut dapat berguna, meski dalam rencana umum tersebut tidak mereka butuhkan,” ujar Murdoch.

Baca juga : kuliah komputer di gorontalo

Goncharov mengutip pengakuan FaceApp bahwa mereka melulu mengunggah potret yang dipilih pemakai. “Kami tidak pernah memindahkan potret lainnya ke pusat data kami,” ujarnya.

“Kami mungkin menyimpan potret yang diunggah ke pusat penyimpanan data. Tujuan utamanya ialah performa dan kemudian lintas data.”

“Kami hendak meyakinkan pemakai tidak mengunggah potret berulang kali untuk masing-masing proses pengubahan foto.”

“Sebagian besar potret dihapus dari penyimpanan kami 48 jam sesudah pengunggahan,” kata Goncharov.

Penyataan yang sama menyebut, ketika FaceApp menerima permintaan pemakai guna menghapus data, kesebelasan di balik sistem operasi software itu sebetulnya telah keunggulan informasi pelanggan.
FaceApp menganjurkan pemakai memasukkan permintaan tersebut ke bagian penataan dan bantuan. “Laporkan kekeliruan dan tambahkan ‘privasi’ dalam permohonan tersebut.”

FaceApp pun mengklaim tidak mengirim data pemakai mereka ke Rusia. Komisi Informasi Inggris (ICO) berbicara kepada BBC bahwa mereka ikut memperhatikan kegelisahan bersangkutan FaceApp dan bakal mempertimbangkan operasional software itu.

“Kami menyarankan publik masuk ke software tertentu untuk memeriksa yang akan dilakukan pada data privasi mereka dan tak memberi informasi mendetail sampai pemakaiannya benar-benar jelas,” kata juru bicara ICO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar