BERITA TEKNOLOGI | berita tentang teknologi ekonomi - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Sabtu, 15 Juni 2019

BERITA TEKNOLOGI | berita tentang teknologi ekonomi

Persepsi pemakai internet Indonesia tentang besarnya akibat negatif berita bohong terhadap dirkursus ekonomi dan politik di negeri ini menduduki urutan tertinggi salah satu 24 negara di dunia atau sebesar 95%,melebihi negara berkembang lainnya laksana Nigeria dan Afrika Selatan sebesar 94% dan 91%.




berita tentang teknologi ekonomi - Persepsi pemakai internet Indonesia tentang besarnya akibat negatif berita bohong terhadap dirkursus ekonomi dan politik di negeri ini menduduki urutan tertinggi salah satu 24 negara di dunia atau sebesar 95%,melebihi negara berkembang lainnya laksana Nigeria dan Afrika Selatan sebesar 94% dan 91%.

Negara Asia lainnya yang pun meyakini akibat negatif lumayan tinggi tentang berita bohong ialah India sebesar 88%, Korea 86% dan Pakistan 84%, dan Hongkong 81%. Sementara, Amerika Serikat menduduki urutan tertinggi salah satu negara maju lainnya dengan persentase menjangkau 90%.

Temuan ini adalahbagian dari Survey Global Ipsos-Centre for International Governance Innovation (CIGI) bertema Keamanan dan Kepercayaan Internet 2019, yang dilaksanakan oleh Ipsos yang mewakili CIGI, dan berkolaborasi dengan Internet Society (SOC) dan United Nations Conference on Trade amd Development (UNCTAD).

Survey ini dilaksanakan dalam rentang masa-masa Desember 2018 sampai Februari 2019. Survey dilaksanakan terhadap 25.229 pemakai internet di Australia, Brazil, Kanada, China, Mesir, Perancis, Jerman, Inggris, Hong Kong, India, Indonesia., Italia, Jepang, Kenya, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Republik Korea, Swedia, Tunisia, Turki, dan Amerika Serikat.

baca juga : berita dampak teknologi  

Hal lainnya yang terungkap dari survey tersebut merupakan sebanyak 68% narasumber warganet di 24 negara setuju bahwa pemerintah bertanggung jawab atas penyebaran berita bohong, di mana Tunisia menempati urutan tertinggi 81%, dibuntuti Nigeria 81%, Meksiko 80%, Hongkong dan Indonesia 79%.

Deputi Direktur Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Wahyudi Djafar menilai, hasil survey tersebut mengindikasikan adanya kesadaran di masyarakat bahwa berita bohong sangat dominan  negatif terhadap kondisi ekonomi dan politik di negeri ini. Kesadaran tersebut adalahmodal mula yang dibutuhkan dalam upaya menambah literasi digital di masyarakat.

Lebih jauh dia meneliti sejumlah hal yang menjadikan besarnya akibat negatif berita bohong di Indonesia. Beberapa hal itu antara beda besarnya pasar internet di Tanah Air, serta literasi digital masyarakat yang masih rendah.

Di beda sisi, dia pun menyoroti hal kredibilitas sebanyak media arus utama yang terafiliasi dengan elit politik turut berkontribusi dalam menurunkan keyakinan masyarakat terhadap media. Alhasil, masyarakat lebih meyakini berita dari media pilihan termasuk media sosial yang belum terverifikasi.
“Jika dikomparasikan negara dunia ketiga lainnya, pasar internet Indonesia sangat besar penetrasinya, sampai-sampai angka persebaran informasi yang memakai internet pun pasti besar. Sampai hari ini percepatan infrastruktur internet pun belum dibarengi dengan penambahan kapasitas atau literasi pemakai, yang dominan  pada mudahnya persebaran hoax,” ujarnya untuk Bisnis, Jumat (14/6)

Dia menambahkan, adanya regulasi yang kongkrit di ranah non pidana dinilai urgen guna menangkal penyebaran berita bohong secara meluas sekaligus menyerahkan efek jera untuk pelaku penyebar berita bohong maupun penyedia platform. Menurutnya, perbuatan pemerintah memberi batas media sosial sejumlah waktu kemudian hanya mempunyai sifat sementara.

Regulasi tersebut pun perlu menata sejauh mana tanggungjawab penyedia platform dalam penyebaran berita bohong yang meresahkan masyarakat, pun termasuk tentang sanksi atau denda untuk menyerahkan efek jera.

Dia menambahkan, pemerintah butuh mencontoh Jerman yang merealisasikan hukum NetzDG yang merealisasikan denda terhadap penyedia platform yang tidak menghapus konten berita bohong dalam kurun masa-masa 24 jam sesudah adanya pelaporan dari masyarakat atau pihak berwenang.

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wens Manggut mengaku media massa perlu guna kembali mendapatkan keyakinan dari masyarakat. Pihaknya senantiasa mengimbau publik supaya membaca berita dari sumber yang diandalkan  di tengah merebaknya berita bohong, dan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya .

Dia menekankan saat ragu apakah suatu berita benar atau tidak, masyarakat seharusnya berpulang kepada sumber berita yang dapat dipercaya yakni media massa. Pasalnya, media massa tidak mempunyai wartawan yang profesional dalam mencatat berita, tapi pun mempunyai standar dan formalitas yang baku dalam mencari kebenaran suatu informasi sebelum dipublikasikan.

“Di beda sisi, AMSI pun mengimbau untuk media massa, supaya disiplin dalam mengerjakan verifikasi sebelum mempublikasi informasi yang beredar, tidak ikut menyebarkan informasi yang diragukan kebenarannya, hoaks, dan bareng publik ikut mengawal keadaban bersama,” ujarnya.

Create by : Reni Sasmita

BACA JUGA :
kuliah komputer di jambi
- kuliah sambil kerja di Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar