BERITA TEKNOLOGI | berita perkembangan teknologi - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Rabu, 19 Juni 2019

BERITA TEKNOLOGI | berita perkembangan teknologi

Inovasi Senjata Perang dengan Kekuatan Pikiran

Inovasi Senjata Perang dengan Kekuatan Pikiran



Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan AS menunaikan para ilmuwan guna menemukan teknik pemakaian senjata dengan memakai kekuatan pikiran.

Belum lama ini, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), agen dari Departemen Per­tahanan AS yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi baru militer, men­gumumkan bakal menerima dana dari program di bawah Nonsurgical Neurotechnology Next-Generation.

Kucuran dana segar tersebut ditujukan guna mengem­bangkan teknologi yang akan meluangkan saluran komunikasi dua arah yang cepat dan mulus, antara otak insan dan mesin tanpa membutuhkan operasi.
baca juga : sekolah robot di indonesia

Untuk mempercepat tahapan itu, DARPA diketahui telah menunaikan sejumlah ilmuwan untuk menemukan teknik instan menyimak pikiran tentara memakai sen­jata, laksana rekayasa genetika benak manusia, nanoteknologi dan sinar inframerah.

Tujuan kesudahannya tentu pemakaian senjata yang bisa dikendalikan pikiran, laksana segerombolan drone, dengan satu pemikiran atau keterampilan untuk mengir­imkan gambar dari satu benak ke benak lain.








Hal ini dapat Anda bayang­kan ketika seseorang dapat mengoperasikan pesawat tanpa awak atau seseorang yang barangkali menganalisis tidak sedikit data dengan cepat melulu mengandalkan ke­mampuan pikiran,” kata Jacob Robinson, asisten profesor bioteknologi di Rice Univer­sity, yang memimpin di antara dari enam kesebelasan bentukan DARPA.

Jacob melanjutkan sebena­rnya terdapat latensi di mana seseorang bisa berkomu­nikasi dengan mesin dengan teknik berkirim sinyal dari otaknya. “Yang kemudian andai dimanfaatkan, seseorang bisa menggerakkan jari atau mulutnya untuk menciptakan perintah verbal. Jadi terdapat inter­aksi terhadap sistem cyber atau sistem fisik, melewati kekuatan pemikiran ini pun kita dapat menambah kecepatan inter­aksi,” paparnya.

Baca Juga : Kanada Tolak Tuntutan untuk Setop Ekstradisi Bos Huawei ke AS

Perlu diketahui pula tahapan penelitian ini menjadi san­gat urgen dalam peradaban teknologi di dunia ketika ini. Pas­alnya tak dipungkiri kehidupan insan telah dipenuhi perang­kat pintar dan gelombang data besar, yang pada akhirnya bakal ada software baik di domain mili­ter maupun sipil yang mengarah pada ‘upaya’ ini.
Baca Juga :
Untuk mengabulkan khayalan itu, kesebelasan Jacob berencana meng­gunakan virus yang dimodifikasi untuk mengantarkan bahan gene­tik ke dalam sel, yang mereka sebut vektor virus. Langkah ini dipungut untuk memasukkan DNA ke neuron spesifik yang akan menciptakan mereka meng­hasilkan dua jenis protein. ima/R-1

Pengaplikasian Teknologi
Jenis protein kesatu yang diaplika­sikan di otak insan ini bertugas menyerap cahaya, ini memung­kinkan guna mendeteksi kegiatan saraf. Lalu headset eksternal yang sudah disiapkan nanti akan mengantarkan cahaya inframerah yang dapat melalui tengkorak dan masuk ke otak.

Detektor yang terpasang pada head­set lantas akan mengukur sinyal kecil yang dipantulkan dari jaringan benak untuk menghasilkan pembacaan kegiatan yang dapat dipakai untuk memahami apa yang dilihat, didengar, atau urusan yang ingin digarap orang tersebut.

Sedangkan protein kedua bakal ditargetkan ke nanopartikel magnetik, sampai-sampai neuron satuan kerja utama dari sistem saraf yang bermanfaat men­gantarkan impuls listrik bisa dirang­sang secara magnetis guna menembak saat headset menghasilkan medan magnet. Ini dapat dipakai untuk menstimulasi neuron sampai-sampai mengin­duksi gambar atau suara dalam benak seseorang.

Sebagai bukti konsep, kumpulan Ja­cob ini berencana memakai sistem itu untuk mengantarkan gambar dari korteks visual satu orang ke orang lain. “Memecahkan sandi atau me­nyandikan empiris sensorik ialah sesuatu yang anda pahami dengan relatif baik. Di ujung sains yang sarat per­juangan, saya pikir saya dan anda bisa mewu­judkannya andai kita mempunyai teknologi guna melakukannya,” sambung Jacob.




Sementara itu, sekelompok lembaga penelitian nirlaba Battelle yang juga ditunjuk DARPA memiliki target yang cukup ambisius yaitu menciptakan koneksi cepat antara pikiran manusia dengan drone.

Ilmuwan riset senior, Gaurav Sharma, yang memimpin tim ini menjabarkan joystick dan kursor kom­puter kurang lebih adalah perangkat satu arah. “Tapi sekarang kita sedang memikirkan satu orang mengendalikan beberapa drone langsung dan itu dua arah, jadi jika drone itu bergerak ke kiri, Anda mendapatkan sinyal sensorik kembali ke otak dan mengatakan ke­pada Anda bahwa itu bergerak ke kiri,” ceritanya.

Rencana kelompok ini semua bergantung pada nanopartikel yang dirancang khusus dengan inti magnetik dan piezoelektrik (satu komponen ele­ktronika) yang dapat mengubah energi mekanik menjadi listrik dan sebaliknya.

Ketika headset yang dirancang khusus untuk menerapkan medan magnet ke neuron yang ditargetkan nanti, inti magnetik akan bergerak dan memberikan tekanan pada kulit luar untuk menghasilkan impuls listrik yang membuat neuron menyala.

Baca Juga : sekolah digital marketing

Proses ini juga bekerja secara ter­balik, dengan impuls listrik dari neuron penembakan dikonversi menjadi med­an magnet kecil yang diambil detektor di headset.

Menterjemahkan proses itu ke drone, menurut Sharma, tidak akan mudah, tetapi kelompoknya sangat bersemangat terhadap tantangan yang diberikan DARPA. “Perlu disadari pula, otak merupakan batas terakhir dalam ilmu kedokteran. Kami sangat sedikit memahaminya, yang membuatnya sangat menarik untuk melakukan pene­litian di bidang ini,” terangnya.

Apalagi proyek DARPA sangat maju karena menghindari pemasangan teknologi melalui jalur operasi yang tergolong membahayakan. Itu sebab­nya semua teknologi ini menggunakan pendekatan pemantauan otak eksternal seperti electroencephalography (EEG) di mana elektroda melekat langsung ke kulit kepala. Dengan demikian, DARPA sedang mencoba untuk memacu tero­bosan antarmuka otak-komputer yang noninvasif atau invasif minimal (BCIs). ima/R-1

Geliat Pengembangan di Dunia
Selain AS yang ambisius untuk mengem­bangkan kekuatan tentara di masa de­pan melalui jalur teknologi. Korsel juga dikabarkan mulai merancang robot perang menyerupai manusia dan hewan.

Kantor berita Yonhap melaporkan Admin­istrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) telah menerbitkan dokumen baru yang menyebutkan rencana memasuk­kan beberapa jenis robot biometrik cang­gih ke dinas militer dalam beberapa tahun mendatang.






DAPA menyatakan militer akan meng­galang upaya untuk merancang robot meny­erupai manusia dan makhluk hidup lainnya, seperti serangga, burung, ular, dan mungkin kehidupan laut lainnya.

Untuk saat ini, prioritas telah di tempat­kan pada pengembangan robot manusia dan serangga. Jika upaya ini membuahkan hasil, pengetahuan tersebut mungkin dibawa ke Angkatan Darat Korsel awal 2024.

baca juga:Robot Donald Trump BAB Akan Sambut Presiden AS di Inggris

Setelah siap digunakan di tentara, robot humanoid dan animaloid akan digunakan untuk berbagai tugas, termasuk misi penyela­matan dan pencarian serta pengintaian.

Suatu hari, robot-robot itu akan meng­gantikan manusia di medan perang atau akan menjadi mayoritas pasukan tempur bukan lagi ide dari dunia fiksi ilmiah, tetapi keyaki­nan kuat dari beberapa pakar keamanan.

Pada 2016, Kepala Badan Teknologi Tinggi Militer Russia - Analog dengan DARPA me­nyatakan gagasan tentara yang bertempur di medan perang akan segera menjadi usang. “Peperangan masa depan akan melibatkan operator dan mesin, bukan tentara yang saling menembak di medan perang,” kata Andrey Grigoriev, Kepala Advanced Research Foundation. ima/R-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar