BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi xiaomi - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Kamis, 16 Mei 2019

BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi xiaomi


Perusahaan Teknologi Sepakat Perangi Terorisme Online

Perusahaan teknologi menandatangani Christchurch Call untuk perangi terorisme online


BERITA TEKNOLOGI - Sebanyak 17 negara, Komisi Eropa, dan delapan perusahaan teknologi besar sudah menandatangani perjanjian Christchurch Call yang dikenalkan pada pertemuan G7 Digital Ministers. Christchurch Call adalahkesepakatan antara pemerintah dan perusahaan teknologi besar guna memerangi aksi terorisme online.

Christchurch Call adalah puncak dari banting tulang di departemen pemerintahan yang melibatkan ribuan pejabat dari sekian banyak  negara untuk merangkai dan mengumpulkan sokongan global. Christchurch Call dikenalkan sebagai tanggapan atas serangan teror yang terjadi di dua masjid di Christchurch pada Maret lalu, dan menewaskan 51 orang. Pelaku penembakan dua masjid itu menyiarkan secara langsung aksi kejinya di Facebook.

"Pada kesudahannya ini ialah langkah kesatu tetapi tahapan yang substansial. Negara dan perusahaan sudah bersatu, dan tersebut terjadi sebab mereka menyaksikan apa yang terjadi di Christchurch dan berkomitmen untuk menciptakan perbedaan," ujar Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern dikutip New Zealand Herald, Kamis (16/5)

Meskipun kerangka kerja Christchurch Call mempunyai sifat sukarela, sejumlah 55 investor sudah berkomitmen akan memakai asetnya seniliai 5 triliun dolar AS guna mendrong perusahaan teknologi supaya menindaklanjuti perjanjian tersebut. Diantaranya, tergolong 27 dana investor dari Selandia Baru, laksana the New Zealand Super Fund, Accident Compensation Corporation, the Government Superannuation Fund, the National Provident Fund and Kiwi Wealth.

"Bagian dari keterlibatan kami dengan perusahaan media sosial bakal melibatkan pengawasan dan meyakinkan pertanggungjawaban atas komitmen Christchurch Call yang dibuat," ujar Kepala Eksekutif New Zealand Super Fund, Matt Whineray.

Peluncuran Christchurch Call itu dihadiri oleh pemimpin negara dari Selandia Baru, Prancis, Kanada, Indonesia, Irlandia, Yordania, Norwegia, Senegal, Inggris, dan Komisi Eropa. Sementara, negara yang tidak muncul namun tetap berkomitmen yaitu Australia, Jerman, Jepang, India, Belanda, Spanyol, Swedia, Italia.

Lima perusahaan teknologi besar sudah merilis komitmen, termasuk mengeluarkan laporan reguler secara transparan bahwa mereka sudah mendeteksi dan menghapus konten terorisme atau ekstremisme di platform mereka. Di samping itu, mereka pun sepakat menyusun tim manajemen insiden guna menanggapi konten-konten yang tidak menyenangkan. 

Pemerintah dan perusahaan teknologi sudah sepakat guna mengembangkan teknologi yang menangkal pengunggahan konten-konten terorisme. Hal tersebut termasuk melawan akar kekerasan ekstrem, menambah transparansi mengenai pendeteksian dan penghapusan konten tersebut, dan meninjau model bisnis yang dapat menciptakan pemakai media sosial sedang di jalur mengarah ke radikalisasi. Secara signifikan, perusahaan teknologi sudah berjanji guna meninjau model bisnis mereka dan memungut tindakan guna menghentikan perbuatan ekstremis yang dapat mengakibatkan radikalisasi.

"Ini barangkali termasuk memakai algoritma dan proses beda untuk menunjukkan pemakai dari konten itu atau promosi pilihan yang kredibel, positif atau kontra-narasi," kata dokumen Christchurch Call to Action. 

Dalam perjanjian Christchurch Call, seluruh pihak berjanji untuk mengerjakan investasi dalam mengembangkan teknologi algoritma dalam menangkal pengunggahan konten terorisme dan ekstremisme. Pengembangan teknologi itu nantinya bisa langsung mendeteksi konten-konten yang berisi terorisme, dan segera menghapusnya dari platform oline.

Beberapa jam sebelum peluncuran Christchurch Call, Facebook telah memberitahukan investasi sebesar 7,5 juta dolar untuk menambah teknologinya dalam memerangi konten terorisme. Facebook bareng dengan perusahaan teknologi besar lainnya, laksana Microsoft, Twitter, Google dan Amazon merilis pengakuan bersama, yang mengaku mereka bakal menetapkan tahapan konkret untuk menanggulangi penyalahgunaan teknologi dalam menyebarkan konten teroris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar