BERITA TEKNOLOGI - WhatsApp Bakal Tampilkan Iklan Pada 2020 - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Jumat, 24 Mei 2019

BERITA TEKNOLOGI - WhatsApp Bakal Tampilkan Iklan Pada 2020

Hasil gambar untuk WhatsApp Bakal Tampilkan Iklan Pada 2020

WhatsApp Bakal Tampilkan Iklan Pada 2020


berita teknologi hpSejak diakuisisi oleh Facebook, tampaknya sang raksasa teknologi tengah memikirkan cara supaya aplikasi itu dapat menghasilkan uang.  Sebelumnya sempat beredar kabar bila WhatsApp bakal jadi software berbayar, tetapi kabar tersebut ditepis oleh Facebook. Hingga ketika ini, anda tetap menikmati layanan kirim pesan lewat WhatsApp dengan gratis.  

Tahun ini, Facebook mengkonfirmasi bila mereka akan menyematkan iklan yang nantinya akan berseliweran di media sosial tersebut tahun 2020. Hal ini diungkapkan oleh Matt Navara, seorang konsultan media sosial, di akun Twitternya.  
Postingan itu berisi potret slide presentasi ketika pagelaran Facebook Marketing Summit di Belanda berlangsung. Demikian laksana dikutip dari Ubergizmo, Jumat (24/5/2019). 



Di sana tertulis, "Coming Soon to @WhatsApp...

- Status (Cerita) WhatsApp untuk mendapatkan Iklan pada tahun 2020 ", dengan jelas menyatakan bahwa status WhatsApp akan dimeriahkan oleh iklan.

Namun tidak butuh khawatir, sebab iklan ini akan dibenamkan dengan teknik yang sama laksana stories Instagram, yakni di status, sampai-sampai tidak bakal mengganggu pemakai seperti software gratisan di Play Store pada umumnya.


Hasil gambar untuk WhatsApp Bakal Tampilkan Iklan Pada 2020
Apakah Pembatasan WhatsApp dan Media Sosial Pemerintah Benar?


Sebelumnya, pemerintah mengerjakan pembatasan media sosial Facebook dan Instagram serta software pesan WhatsApp. Dengan demikian, aplikasi-aplikasi itu tak dapat dipakai secara normal untuk menyalurkan gambar ataupun video.  Hal ini dilaksanakan untuk menangkal penyebaran video maupun konten hoaks serta anjuran bersifat provokatif lebih luas lagi.  

Pengamat media sosial Indonesia Enda Nasution mengatakan, tahapan yang dilaksanakan pemerintah memberi batas akses media sosial adalahsebuah pilihan menghindari provokasi terus meluas.  "(Pembatasan akses terhadap medsos) adalahalternatif, tidak mengerjakan apapun sama sekali pun salah. Selain itu, provokatif itu berbahaya, karena tidak ada beberapa video lama dengan narasi baru yang memengaruhi orang untuk bergabung, "kata Enda ketika Tekno Liputan6.com dihubungi Rabu (23/5/2019).

Enda mengatakan, andai pemerintah menghentikan semua akses internet pasti dampaknya untuk masyarakat Indonesia akan kian luas. Bagi itu, pemerintah menggali solusi yang tepat.  "Mungkin yang dilakukan dapat lebih baik, contohnya mengidentifikasi nomor-nomor telepon yang menyebarkan informasi provokatif. Tetapi melihat situasi kemarin, barangkali pemerintah mempunyai informasi intelijen yang memandang tahapan pembatasan media sosial tersebut jadi terbaik," kata Enda.  Enda mengungkapkan, sekitar ini pembatasan akses media sosial dirasa lumayan tepat, menilik belum adanya kehancuran yang lebih luas.  
Namun demikian, Enda menilai pemerintah butuh melakukan penilaian terus menerus.  "Ini paling tergantung dengan situasi, jadi butuh terus terdapat evaluasi, tidak boleh juga pembatasannya berkepanjangan," ujarnya. 


Gambar terkait
Warganet Perlu Berkorban Sedikit


Pembatasan akses media sosial dan software pesan WhatsApp menciptakan masyarakat tidak dapat mengirimkan potret dan video seperti ketika normal. Namun, dia menyebut, masyarakat perlu tidak banyak berkorban.  Saat ini di satu sisi penyebaran berita-berita provokatif dan video berkurang tidak sedikit karena tidak dapat kirim. Kemudian, anjuran untuk turun ke jalan juga berkurang lumayan banyak.  Namun, akibat luasnya masyarakat jadi tidak dapat membuka media sosial.  "Saya sih berasumsi gangguan yang dialami masih dapat ditolerir dikomparasikan risiko ada bisa jadi terjadi, lebih lagi provokasi," katanya. 

Lebih lanjut, dia mengajak supaya warganet berkorban tidak dapat bermain Instagram dan media sosial selama sejumlah hari.  "Netizen berkorban tidak banyak lah, tidak dapat nonton video IG sejumlah waktu, demi mengawal stabilitas yang lebih luas," ujarnya.  Terlebih, ketika ini pemerintah melulu membatasi akses media sosial dan software pesan, bukan menghentikan akses internet secara keseluruhan.   "Kalau di satu sisi pemerintah inginkan ekstrem, dapat saja memadamkan internet keseluruhan. Akibatnya software perbankan, e-commerce, dan lain-lain tidak dapat diakses, tetapi sekarang kan masih dapat untuk komunikasi," tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar