BERITA TEKNOLOGI - People Power, Kekuatan Medsos, dan Pengaruh Media Daring - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Kamis, 23 Mei 2019

BERITA TEKNOLOGI - People Power, Kekuatan Medsos, dan Pengaruh Media Daring

Media sosial pendorong pergerakan People Power


People Power, Kekuatan Medsos, dan Pengaruh Media Daring


perkembangan teknologi terbaru - di dunia Istilah 'People Power' atau kekuatan rakyat kesatu kali dibacakan oleh Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat mengerjakan Apel Siaga. Tak dinyana, istilah tersebut malah menyulut gerakan-gerakan perlawanan ketika pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu kalah.

Alhasil, gerakan mengatasnamakan kekuatan rakyat digaungkan di media sosial, tergolong platform pesan instan WhatsApp.

Laporan Drone Emprit guna pemakaian keyword People Power sekitar periode 31 Maret sampai 21 Mei menyinggung ada 587,1 ribu (587.091) percakapan tentang People Power di Twitter.


Total terdapat 650,1 ribu (650.194) pembicaraan People Power di media sosial maupun media massa. Terkait media sosial, Drone Emprit menulis Facebook menyumbang 14,8 ribu percakapan, YouTube 1,6 ribu, dan Instagram 26,2 ribu.

Pendiri mesin pengais media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi menulis percakapan People Power di Twitter bertambah pada 5 April dengan angka selama 10,6 percakapan.

Tren itu sempat naik turun di kisaran angka 7.000 sampai 13 ribu percakapan. Tren pembicaraan People Power naik menyeluruh pada 10 Mei dengan jumlah pembicaraan 30,8 ribu.

Percakapan People Power menjangkau puncaknya jelang hari pencoblosan pada 17 Mei lalu. Tercatat nyaris 42 ribu pembicaraan People Power terjadi pada 14 Mei lalu. Angka pembicaraan bahkan masih tinggi sejumlah 31,8 ribu pembicaraan pada 21 Mei.

Ismail menuliskan Twitter mempunyai keunggulan sebab lebih terbuka dikomparasikan media sosial lainnya laksana Facebook dan Instagram. Twitter memiliki cakupan luas guna mempenetrasi sebuah narasi politik. Pasalnya begitu sebuah narasi atau isu yang di bina menjadi trending, maka isu itu menjadi powerful dan dapat disaksikan oleh siapapun.

"Twitter lebih terbuka, namun Twitter terbuka dapat saling tahu yang ditulis lawannya. lebih open guna lihat sana-sini. Kalau Facebook itu ingin mereka melulu baca dari rekan atau yang dibuntuti itu aja, jadi berputar-putar di satu lingkaran saja," ujar Ismail ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (22/5).

Oleh karena tersebut efek echo chamber di Facebook paling kuat daripada Twitter. Fenomena ini ialah pemakai media sosial sedang di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.

Akibat gejala echo chamber yakni ketika ada berita hoaks, seseorang dapat langsung mempercayainya. Mengingat mereka telah menerima validasi berita hoaks dari rekan dengan pemikiran serupa. 



Peranan media dalam membina narasi People Power

Ismail lantas mengatakan media massa mempunyai peranan urgen dalam memperkuat narasai politik, terutama berhubungan People Power. Ismail menyatakan dalam membina narasi politik yang kuat diperlukan amplifikasi yang masif supaya didengar oleh semua masyarakat. 

Amplifikasi narasi politik ini dilaksanakan dengan teknik menjadikannya sebagai trending topic. Kemudian supaya narasi politik lebih teramplifikasi, Ismail menuliskan kedua kubu berjuang narasi politiknya dapat dimuat di media massa.

Dalam Social Network Analysis, media massa terutama media online sedang di bagian tengah. Media daring menghubungkan kedua kubu menurut pola 'retweet' salah satu jaringan kedua kubu. Artinya konten perkabaran media massa dari sekian banyak  angle yang independen dipakai oleh kedua kubu untuk menyokong sebuah narasi yang berkeinginan dibangun.


"Kedua kubu memanfaatkan perkabaran media. Media terdapat di tengah sebab media tersebut mengambil tidak sedikit angle. Suatu saat sesuai oleh 01, maka 01 yang diangkat. Suatu saat sesuai untuk 02, yang angkat bakal 02," jelas Ismail.

Ismail menulis ada ada tidak sedikit tagar yang sehubungan dengan People Power. Di antaranya ialah tagar #PeoplePowerKontitusional, #PeoplePowerApirasiRakyat, sampai #PeoplePowerItuLegal. Tagar ini dirasakan Ismail belum dapat memberikan akibat yang besar, kecuali dikabarkan oleh media.

"Ketika jadi trending, siapapun dapat lihat, jadi narasi kecil-kecil lewat cuit-cuit kecil tadi jadi paling kuat saat jadi trending. Mungkin trending ini barangkali belum jadi apa apa bila media belum mengusung narasi ini," imbuhnya.

Ismail menuliskan media memang mempunyai kekuatan besar guna mendorong suatu trending topicuntuk menguatkan narasi politik. Pasalnya, bilamana trending topic itu dikabarkan oleh media, maka narasi politik semakin luas persebarannya.

"Kalau trending saja, sehari dapat hilang. Kalau diciduk oleh media jadilah tersebut makin kuat. Jadi telah tidak lagi terbatas di medium Twitter namun masuk ke platform media online," pungkasnya.

Oleh sebab itu, Ismail menyinggung media sebagai jembatan informasi salah satu kedua kubu. Media massa pun menjadi perangkat amplifikasi narasi yang berkeinginan dibangun kedua kubu. 

Ismail menuliskan akan gampang untuk memvalidasi narasi politik yang sudah dikabarkan oleh media massa. Ketika masuk ke media, penyokong satu kubu bakal mudah menyalurkan dan mengerjakan screenshot yang bakal disebarkan guna memperkuat narasi politik. 

"Media sebagai 'information arbitrage' atau jembatan informasi. Harus berhati-hati`memberitakan peristiwa. Harus valid dan bijak. Karena tulisannya bakal menjadi sumber narasi untuk semua pihak," ucap Ismail.

Drone Emprit menulis ada 20,4 ribu isu berhubungan Peopl Power yang dinamakan oleh media daring. Metode perhitungan isu ini menurut jumlah keyword People Power di masing-masing paragraf dalam artikel. Kendati demikian bilamana dalam satu paragraf menyinggung dua kali People Power, maka akan namun dihitung satu People Power.

Ismail menyatakan media daring mulai memainkan isu People Power pada 1 April dan artikelnya baru mulai naik sehari berikutnya dengan angka 283 artikel. Angka itu relatif stabil di angka 100 tulisan setiap harinya.

Kemudian lonjakan dibuka satu minggu sebelum hari pemilihan, yaitu pada 10 Mei dengan 242 artikel. Angka tersebut lantas melonjak ke angka 601 tulisan pada 15 mei.

Selang dua hari berikutnya pada hari pencoblosan, 17 Mei angka bertambah ke angka 634 artikel. Puncaknya terdaftar pada 21 Mei dengan 895 artikel. Di hari yang sama terjadi aksi demonstrasi massa yang menampik hasil rekapitulasi KPU di kantor Bawaslu.


Media sosial pendorong pergerakan People Power

Dihubungi terpisah, Pakar Teknologi Informasi Ruby Alamsyah menyatakan media sosial memang dijadikan mobilisasi sampai penggorengan narasi politik. Media sosial mempunyai kekuatan utama guna menjaring penyokong dengan kemampuan jangkauan sebaran informasi dan menciptakan orang hendak berinteraksi.

Pendukung akar rumput Prabowo Subianto - Sandiaga Uno bergerilya di grup WhatsApp untuk membina narasi politik bahwa terdapat kecuranga terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Mulai dari kekeliruan input data situng KPU, kematian ratusan anggota KPPS, sampai penggelembungan pendapatan suara.

"Medsos tersebut dijadikan lokasi untuk mengerjakan propaganda yang memang terjadi belakangan ini. Apalagi demo hari ini (Rabu 22 Mei), anda melihat tidak sedikit propaganda yang diciptakan di medsos dan software pesan pesan singkat," kata Ruby.


Celakanya keterampilan media sosial guna menyebarkan propaganda dengan masif dan lengkap ini tidak diiringi dengan keterampilan verifikasi masyarakat awam.

Bagi Ruby, masyarakat awam tanpa keterampilan verifikasi ini lebih memilih guna percaya untuk konten terlebih dahulu kemudian menyebarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, informasi hoaksmenyebar dengan cepat.

"Media sosial itu dirasakan powerful guna mencari sokongan pihak awam yang tidak verifikasi bahwa suatu informasi tersebut benar atau tidak. Propaganda dalam 24 jam tersebut belakangan tidak sedikit sekali hoaks, yang berisi urusan tidak benar menyudutkan pihak tertentu dan menggiring opini masyarakat awam," ujarnya.

Ruby pun mengatakan media sosial pun bertranformasi menjadi darah untuk manusia. Media sosial tak dapat dipisahkan untuk kehidupan manusia.

" Termasuk WhatsApp, Telegram, pokoknya yang menjadi suatu media komunikasi untuk masyarakat yang dipakai sehari-hari kesudahannya digunakan. Pokoknya apapun media komunikasi yang dipakai masyarakat tersebut dijadikan media," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar