BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi sederhana - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Sabtu, 27 April 2019

BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi sederhana

Zurich Indonesia Soroti Resiko Lingkungan dan Teknologi

Zurich Indonesia menyoroti pentingnya isu lingkungan dan kerentanan teknologi yang ada di Global Risk Report edisi ke-14.

Zurich Indonesia
Ilustrasi, pentingnya asuransi sebagai proteksi



BERITA TEKNOLOGI - Zurich Indonesia soroti isu resiko global tentang lingkungan dan teknologi. Dua isu itu adalahlima isu resiko global yang menjadi sorotan dalam Global Risk Report edisi ke-14 yang dikenalkan tahun ini. Global Risk Report merupkan laporan yang diterbitkan masing-masing tahun oleh World Economic Forum (WEF) bareng Zurich. Laporan tahun ini memprediksi, ada lima resiko yang mesti dihadapi masyarakat global, tergolong Indonesia. Di antaranya isu risiko tentang ekonomi makro, ketegangan salah satu negara-negara besar, ketegangan politik, lingkungan dan kerentanan teknologi.

CEO Zurich Indonesia Hassan Karim mengatakan, perusahaannya mempunyai peran untuk membina masyarakat dalam menghadapi sekian banyak  resiko global yang terjadi melalui kemahiran Zurich dalam mengerjakan manajemen resiko. Apalagi, ia melafalkan bahwa sekitar 10 tahun terakhir isu tentang kerentanan teknologi dan lingkungan menjadi isu yang menjadi perhatian global. “Laporan ini masing-masing tahunnya menjadi unsur dari komitmen kami, dimana kami meninjau dan menolong menjawab kendala global yang dihadapi oleh masyarakat ketika ini,” ujar Hassan di Kuningan, Jakarta, Jumat (26/4). Head of Market Facing Underwriting Zurich Indonesia Rio Daniel mengatakan, resiko-resiko global pun dapat dialami dampaknya oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya, pendekatan yang kolaboratif sangat dibutuhkan untuk menanggulangi isu-isu global itu secara lebih menyeluruh. “Dalam konteks ini, peran asuransi menjadi semakin signfikan, khususnya dalam manajemen dan mitigasi risiko,” ujar Rio. Ia melanjutkan, urgen adanya kolaborasi salah satu semua pihak guna menanggulangi sekian banyak  jenis resiko global yang dihadapi masyarakat Indonesia. Di samping itu, menurutnya, pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pun penting supaya menjadikan masyarakat lebih tangguh. Isu lingkungan yang diajukan oleh Zurich Indonesia terkonfirmasi dari pengakuan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Ia mengemukakan bahwa tahun 2018 adalahtahun terpanas keempat sepanjang sejarah.
“Hal ini sekaligus menjadikan tahun 2015 sampai 2018 menjadi empat tahun terpanas yang pernah tercatat,” ujar Dwikorta.

Menurutnya, evolusi iklim tersebut dominan  pada bertambahnya intensitas cuaca fanatik yang mengakibatkan sekian banyak  bencana alam. Ia menjelaskan, mayoritas bencana alam di Indonesia justru diakibatkan oleh evolusi iklim. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, semenjak tahun 1980 bencana alam yang sangat sering terjadi di Indonesia ialah banjir (38%) dan tanah longsor (21%). Sementara, kerentanan teknologi terlukis dalam Laporan Pemantauan Keamanan Internet Indonesia. Laporan ini mengindikasikan ada lebih dari 232 juta serangan cyber yang terjadi sekitar tahun 2018. Direktur Direktorat Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiawan mengatakan, tingginya angka serangan itu tidak terlepas dari pemakai internet di Indonesia yang ketika ini telah menjangkau 150 juta. Hal ini ia katakan juga dominan pada penambahan kerentanan saat bertransaksi di dunia cyber. Anton menjelaskan, alangkah pentingnya ekosistem yang kuat guna menjaga keawetan cyber nasional. Menurutnya, di antara prinsip utama BSSN ialah kolaboratif. “Angka serangan 232 juta yang sudah saya sebutkan, tidak bakal menjadi insiden andai ada upaya bareng dari sekian banyak  pihak, tergolong ke depannya sektor asuransi,” jelas Anton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar