BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi komputer terbaru - BERITA TEKNOLOGI 1 | BERITA TECHNOLOGY | TECHNOLOGY NEWS

Breaking

About Me

Example.com - Your ACME Website Winner

Kamis, 18 April 2019

BERITA TEKNOLOGI - berita teknologi komputer terbaru

Masalah tarif membuat jaringan seluler di Jakarta TRM non-primitif


berita teknologi komputer terbaru - Ada selisih yang tinggi antara harga sewa perlengkapan pasif yang diminta operator dengan harga sewa yang ditawarkan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.


Operator seluer ragu-ragu dalam memanfaatkan perlengkapan pasif di jaringan MRT Jakarta sebab tidak sepakat dengan tarif sewa yang diputuskan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah mengatakan, operator seluler tak mau memasang perlengkapan di jalur MRT sebab ada selisih yang tinggi antara harga sewa perlengkapan pasif yang diminta operator dengan harga sewa yang ditawarkan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) sebagai selaku partner strategis penyedia konektivitas seluler dan jaringan internet nirkabel di area operasional MRT fase I.

TBIG memutuskan tarif sewa menurut jumlah investasi yang dikucurkan ke MRT dan kewajibannya guna berbagi penghasilan dengan PT MRT Jakarta.

“Dari sisi operator seluler, MRT ini tidak atau [hanya] sedikit meningkatkan trafik baru guna voice dan data, sebab pada dasarnya melulu menambahkan kunjungan yang terdapat dari jalur beda ke jalur MRT,” kata Ririek untuk Bisnis, Minggu (24/3).
Perbedaaan perspektif tersebut menciptakan ada perbedaan perhitungan yang lumayan lebar antara operator seluler dan TBIG. Dari dokumen yang diperoleh Bisnis, TBIG menawarkan harga Rp3,5 miliar sampai Rp4 miliar per operator guna sewa perlengkapan pasif berkapasitas 600 Mbps di 6 stasiun bawah tanah MRT sepanjang 2 tahun kesatu. Operator seluler meminta harga sewa Rp1 miliar per tahun.

Saat dimintai konfirmasi mengenai angka tersebut, Ririek menyatakan tidak tahu secara rinci angka yang diharapkan operator seluler dan Tower Bersama.

Dia menuturkan, untuk menuntaskan permasalahan tersebut, ATSI terus membina diskusi dengan semua pemanku kepentingan, supaya permasalahan selisih harga bisa diatasi. “Kami terus diskusikan untuk menggali solusinya untuk semua pihak,” kata Ririek.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Indonesia (ATSI) Merza Fachys menuliskan harga sewa perlengkapan pasif di area operasional Mass Rapid Transit (MRT) fase I masih dinegoisasikan.

“[Angka sewa] masih berubah, tanyakan ke PT Tower Bersama Infrastructure angka terakhinya,” kata Merza untuk Bisnis.

Hingga ketika ini, menurutnya, ATSI dan sebanyak pemangku kepentingan masih mendiskusikan kriteria dan peraturan penyewaan perlengkapan pasif di area MRT fase I. Dia berharap supaya hasil diskusi dapat menerbitkan keputusan yang saling menguntungkan khususnya untuk jangka panjang.

“Harga ialah salah satu urusan yang tergolong didiskusikan. Mudah-mudahan bisa segera final sampai-sampai masyarakat bakal dapat memanfaatkan layanan telekomunikasi saat berada di MRT dan area-area di dalamnya,” kata Merza.

Direktur & CFO Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso menuliskan bahwa perusahaannya masih mendiskusikan jangkauan bisnis dan harga dengan semua operator seluler.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar